THE JAKARTA POST PELECEHAN ISLAM

pelecehan 180x300 THE JAKARTA POST, WASPADALAH!

Oleh Bahron Ansori / Redaktur MINA

Bulan suci Ramadhan baru saja berjalan sepuluh hari. Umat Islam begitu semangat dalam menjalankannya, termasuk mengisi hari-harinya dengan ibadah lain. Kesabaran umat Islam Indonesia di bulan penuh bekah ini pun teruji dengan munculnya pelecehan secara nyata atas simbol-simbol Islam oleh media sekuler kapitalis, The Jakarta Post.

The Jakarta Post yang juga jaringan Kompas Gramedia telah melakukan pelecehan dengan menayangkan karikatur yang melecehkan kata LAA ILAHA ILALLAH. Kebencian yang membara pada umat Islam dengan menistakan ALLAH, Rasul dan Muhammad dalam siluet tengkorak begitu kentara dari media yang didirikan oleh Ali Murtopo dan Sofyan Wanandi iniMenurut beberapa sumber, jaringan Kompas Gramedia punya catatan panjang dalam menyudutkan kaum Muslimin di Indonesia.

Selama ini, umat Islam diam dan selalu mengalah dengan pelecehan-pelecehan yang dilakukan oleh orang-orang di luar Islam. Mengalah dan diam bukan berarti tak berani alias takut kepada musuh-musuh Islam itu. Tapi, umat Islam diam karena dalam Islam ada akhlak-akhlak mulia yang mesti diamalkan ketika merespon gangguan atau pelecehan-pelecehan seperti yang dilakukan oleh media dimaksud.

Islam adalah agama yang indahpenuh hikmat dan harmoniIslam adalah agama kasih dan damaiCinta adalah salah satu prinsip manusia paling mulia dan sifat yang menumbuhkan semangat interaksi,solidaritasdan kerjasama dan menambahkan kasih sayang kepada hubungan dan komunikasi manusia.

Oleh karena itu Islam selaku agama mulia, di dalamnya, diajarkan bagaimana cara-cara mulia untuk menyikapi berbagai ujian yang menimpa, termasuk pelecehan yang dilakukan The Jakarta Post beberapa hari lalu.

Apa yang diinginkan The Jakarta Post dengan membuat karikatur yang melecehkan simbol Kaum Muslimin itu? Apakah mereka sengaja untuk memancing emosi umat Islam di bulan suci Ramadhan ini? Atau sekedar kesalahan human error yang dianggap biasa? Melalui tulisan singkat ini saya minta dengan hormat kepada pihak The Jakarta Post agar tidak mengulangi sekali lagi perbuatan kotornya yang meresahkan umat Islam.

Jangan dikira umat Islam ini umat yang bodoh dan tidak peka dengan apa yang kalian buat. Sudah lama umat Islam di negeri ini dihina, dilecehkan dan hak-haknya di kebiri oleh orang-orang minoritas yang tak senang Islam ini berkembang. Tahukah engkau wahai The Jakarta Post, ketika kami umat Islam yang memimpin negeri ini, maka hidup orang-orang diluar Islam akan aman damai dan sejahtera.

Ketahuilah, umat Islam ini bukan teroris yang dianggap bisa dengan mudah menghalalkan darah-darah orang di luar Islam yang tak bersalah. Islam dan umatnya adalah agama penuh kasih sayang dan senantiasa berupaya melindungi kaum lemah. Islam dan umatnya adalah kaum terhormat yang berjalan di muka bumi ini dengan akhlak-akhlak mulia atas dasar iman yang sebenar-benarnya kepada Allah SWT.

Miskin Moral

Tak disangka media sekaliber The Jakarta Post ternyata masih menyimpan orang orang yang miskin moral. Bagaimana tidak, bukankah melecehkan simbol umat Islam adalah sebuah keburukan yang dilakukan oleh sekelompok orang tak bermoral? Dari etika jurnalistik pun melecehkan kelompok lain tak dibenarkan apalagi melecehkan agama. Bukankah, orang yang beretika buruk tak jauh beda dengan binatang buas atau bahkan lebih buruk lagi dari sekedar binatang buas?

Wahai The Jakarta Post, bila sekedar keuntungan dunia yang kalian cari, maka kalian pasti akan mendapatkannya. Tapi, tahukah kalian kelak apa yang diperbuat oleh setiap manusia akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa?

Apa artinya kebanggaan semu yang dibangun dengan melecehkan umat Islam? Ketahuilah, umat Islam negeri ini sungguh tak terbilang banyaknya jumlahnya. Bila umat Islam seluruh Jakarta saja marah dan memporak-porandakan kantor yang The Jakarta Post miliki, maka tentu itu sangat mudah dan hanya dalam hitungan menit kantor The Jakarta Post akan rata dengan tanah. Tetapi umat Islam tidak akan bertindak sebodoh itu karena agama Islam adalah “rahmatan lil alamin” (kasih sayang bagi seluruh alam beserta isinya).

Disamping itu, bersyukurlah, karena ini adalah bulan suci Ramadhan, sehingga umat Islam sadar dan pasti tahu diri untuk tidak berbuat nekad dan bodoh untuk membalas perbuatan buruk The Jakarta Post yang merupakan pamer kebodohan itu.

Ini bisa dikatakan pameran kebodohan diri sendiri karena nampaknya media ini sama sekali tidak tahu cara bertingkah dan beretika sebagai media yang terbit di negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam.

Permintaan Maaf The Jakarta Post

Melalui situs thejakartapost.com pada hari Senin 7 Juli 2014 yang dirilis pukul 11:50 siang tadi, pihak redaksi The Jakarta Post memuat tulisan yang berjudul “Apology” (permintaan maaf, red).

“Kami sungguh-sungguh meminta maaf dan menarik kembali kartun editorial yang dicetak pada halaman 7, edisi  3 Juli 2014 dari surat kabar The Jakarta Post.

Kartun tersebut berisi simbolisme agama yang mungkin telah menyinggung sebagian orang.

The Post menyesalkan adanya kesalahan dalam keputusan itu, yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk memfitnah atau tidak menghormati agama apapun,” demikian tulis The Jakarta Post.

Di bulan yang penuh berkah ini, mari memperbanyak doa kepada Allah SWT agar kita, umat Islam diberi kesabaran yang besar dalam menghadapi setiap ujian yang datang. Bukan tidak mungkin ujian serupa bisa datang di tengah hingar bingar pemilu yang akan dilakukan beberapa hari kedepan.

Umat Islam dimana pun berada mesti merapatkan barisan, memperkokoh ukhuwah Islamiyah, memperkecil perbedaan dan meluaskan persamaan agar tak mudah diprovokasi dan di adu domba oleh musuh-musuh Islam. Sudah saatnya kaum Muslimin bersatu demi kejayaan bersama dan membuang jauh-jauh segala sumber yang bisa memecah-belah persatuan.

Wabil khusus untuk media The Jakarta Post, janganlah kalian ulangi sekali lagi pelecehan terhadap simbol-simbol umat Islam, Allah dan Rasul Muhammad SAW. Kami umat Islam tentu tidak akan tinggal diam ketika kesabaran sudah tak mampu terbendung lagi. Karena itu, bertaubatlah dan waspadalah sebab di negeri ini umat Islam jumlahnya mayoritas. Waspadalah The Jakarta Post! (T/R2/E01)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s