Jama’ah Muslimin

1. Apa pengertian Jama’ah Muslimin?

Pengertian Jama’ah Muslimin (Al-Jama’ah) sebagaimana yang dijelaskan oleh sahabat Rasulullah shallalahu alaihi Wasallam yaitu : “Al-jamaatu huwa mujama’atu ahlulhaqqi wain qollu”(Al-jama’ah adalah tempat berkumpulnya ahli haq walaupun sedikit)

2. Mengapa muslimin harus berjama’ah?

Karena diperintah oleh Allah dan Rosul-Nya “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali(agama) Allah seraya berjama’ah dan janganlah bercerai berai” (QS. Ali Imran : 103) “…Tetapilah jama’ah Muslimin dan imam mereka” (HR. Bukhari Muslim)

3. Apa pengertian Khilafah?

Pengertian Khilafah secara etimologi adalah “penggantian”, sedangkan secara terminologi adalah kekhilafahan/kepemimpinan di kalangaan umat Islam sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

4. Bagaimana hubungan Jama’ah Muslimin dengan Khilafah?

Jama’ah Muslimin adalah bentuk masyarakat Islam yang dipimpin oleh seorang Imaam. Khilafah adalah bentuk kepemimpinan masyarakat Islam dan ditakhsis oleh Rasulullah dengan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jejak kenabian), bukan semata-mata Khilafah.

5. Apa pengertian Imaamah?

Menurut lughah (etimologi) artinya sebagai kepemimpinan. Sedangkan menurut istilah (terminologi) sama dengan pengertian khilafah.

6. Apa pengertian Kholifah?

Kholifah yang memimpin dalam Khilafah/Kekhilafahan.
Jama’ah muslimin adalah perintah dari Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wasallam.

7. Apa perbedaan Jama’ah Muslimin dengan Jama’ah lainnya?

Jama’ah Muslimin ada perintahnya dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wasallam “Taljamuu Jamaa’atal Muslimiina wa imaamahum” (Al-Hadits).
Sedangkan selainnya tidak diketahui dalilnya.

8. Apa pengertian Bai’at?

Secara bahasa (etimologi) Bai’at artinya “menjual, barter harta atau perjanjian”, sedang secara istilah (terminologi) Bai’at artinya “jual beli jiwa dan harta dari mu’min kepada Allah dengan Jannah”.

9. Apa syarat-syarat Bai’at?

Syarat diterimanya bai’at adalah Muslim dan tidak syirik.

10. Bai’at apa saja yang ada pada masa Rasulullah?

Bai’at Aqobah ke-1 dan ke-2 (bai’atun nisa), Bai’atul jihad (perang), Bai’atur Ridlwan, dan Bai’at ‘ala at Thaat.

11. Apa perbedaan bai’at pada zaman Rasulullah dengan bai’at mengangkat khalifah?

Bai’at pada zaman Rasul kepada Rasulullah, Bai’at khilafah membai’at seorang kholifah (Imaam) disebut juga Bai’atul Imaaroh (Membai’at seorang Amir).

12. Apa alasan Jama’ah Muslimin mengklaim (menganggap) diri sebagai Jama’ah yang paling haq?

Karena diperintahkan oleh Rasullullah dan merupakan Jama’ah yang pertama kali ditetapi oleh Muslimin setelah runtuhnya dinasti Utsmaniyyah di Turki.

13. Bagaimana tanggapan Jama’ah Muslimin tentang pendapat yang menyatakan bahwa keberadaan Jama’ah Muslimin yang saat ini terkesan ekslusif?

Mungkin karena mereka belum mengetahui Jama’ah Muslimin secara utuh (Karena kurang memperhatikan sunnah Rasullulah).

14. Mengapa jika menetapi Jama’ah Muslimin harus melaksanakan bai’at?

Karena mengikuti contoh/sunnah shahabat ketika mereka membai’at para Khulafaur rasyiddin sebagai Khalifah.

15. Bagaimana proses pengangkatan Imaamul Muslimin dalam Jama’ah Muslimin?

Proses pengangkatan Imaamul Muslimin atau pembai’atan Imaamul Muslimin tidak sulit, kita tinggal mencontoh proses pembai’atan Abu Bakar Shidiq menjadi khalifah, dan para Khalifah sesudahnya.

16. Mengapa kontribusi Jama’ah Muslimin belum begitu terasa oleh umat Islam?

Insya Allah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, Jama’ah Muslimin selalu memberikan konstribusi terhadap setiap persoalan yang dihadapi Muslimin. Setiap amal tidak perlu senantiasa ditampakkan/diperlihatkan, cukuplah Allah yang melihat.

17. Apakah proses pencarian/penelusuran Jama’ah-Jama’ah yang ada di seluruh dunia pernah dilakukan lagi di masa sekarang di mana kondisi dunia sudah semakin terbuka?

Usaha ke arah itu tetap terbuka dan kalau ada yang menyatakan lebih awal serta sesuai dengan khiththah Rasulullah maka Imaam beserta seluruh makmum siap untuk menjadi Ma’mum.

18. Bagaimana jika muncul Jama’ah Muslimin yang baru dengan landasan yang sama dan didukung oleh mayoritas muslimin?

Pelaksanaan syari’at berjama’ah tidak tergantung dari mendapat dukungan atau tidak, barometernya bukan dukungan dari manusia melainkan Al-Quran dan As-Sunnah.

19. Mengapa Jama’ah Muslimin beranggapan bahwa “Islam Non Politik”?

Pertama, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) berkeyakinan bahwa Islam itu wahyu dari Allah Subhanahu Wa ta’ala yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Sedangkan politik adalah hasil karya pemikiran manusia. Kedua, adalah tidak benar kalau Rasulullah diberi amanat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menyebarkan Risalah -Nya dengan jalan “menguasai” manusia di Mekkah dan di Madinah, namun Rasulullah menyebarkan Risalah-nya dengan jalan “tabligh” seperti dapat dilihat dalam Al-Qur`an (QS. 5 : 7). Rasul adalah pemberi nasehat dan memberi tahu hal-hal yang tidak diketahui oleh manusia (QS. 7:62); mengajak/dakwah (QS. 16 :125).

20. Bagaimana konsep perjuangan Jama’ah Muslimin dalam menyebarluaskan Syari’at Al-Jama’ah dewasa ini yang tidak bisa lepas dari politik?

Konsep perjuangan Jama’ah Muslimin tidak akan keluar dari Al-Quran dan As-Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan Sunnah Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyyin dalam situasi dunia bagaimanapun.

21. Bagaimana sikap Jama’ah Muslimin terhadap muslimin yang tidak melaksanakan ba’iat kepada Imaam Jama’ah Muslimin?

Tetap menganggap mereka sebagai saudara seraya terus menasehati dan mengajaknya untuk sama-sama mengamalkan Islam secara “Kaffah” dalam Al-Jama’ah. Adapun mereka belum berbai’at tidak menjadi alasan ukhuwah sesama muslim menjadi putus.

22. Bagaimana pandangan Jama’ah Muslimin terhadap kekuasaan?

Fungsi kekuasaan adalah fungsi politik, sedangkan Jama’ah Muslimin non politik. Jadi mengatur hidup bermasyarakat umat Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

23. Bagaimana jika Jama’ah Muslimin diamanahi kekuasaan?

Karena kekuasaan adalah milik Allah dan hanya akan diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, maka siapapun yang memperolehnya harus menunaikannya sesuai dengan perintah-Nya (Al-Qur`an dan Sunnah Rasul).

24. Apa dasarnya bahwa Imaam pertama Jama’ah Muslimin itu adalah Wali Al-Fattah?

Karena Wali Al-Fattah adalah orang pertama yang dibai’at sebagai Imaam bagi muslimin setelah runtuhnya dinasti Utsmaniyyah.

25. Bagaimana hubungan Jama’ah Muslimin dengan Pemerintah Republik Indonesia?

Hubungan Jama’ah Muslimin dan pemerintah Republik Indonesia alhamdulillah baik. Sebab Jama’ah Muslimin dalam setiap kegiatannya berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah (ibadah) dan UUD 1945 menjamin warga negaranya untuk beribadah sesuai dengan agama/keyakinan yang dianutnya.

26. Bagaimana sistem (hierarki) kepemimpinan dalam Jama’ah Muslimin?

Sistem (hierarki) kepemimpinan di Jama’ah Muslimin adalah sederhana, yaitu ada Imaam ada ma’mum. Imaam wajib menggembala ma’mumnya dan ma’mum pun wajib taat kepada Imaam selama Imaam taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

27. Jika khilafah itu sudah ada, mengapa muslimin saat ini masih terpuruk dan menjadi objek mainan orang kafir?

Masya Allahu kaana wa ma lam yasya lam yakun, la haula wala quwwata illa billahi. Setiap keadaan (menang atau kalah, jaya atau terpuruk) adalah ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala yang perlu menjadi ibroh dan nasihat bagi muslimin. Jaya dan menang hanya akan diberikan kepada Muslimin saat Muslimin bersatu dalam satu Jama’ah dengan satu imaamnya dan tidak berpecah belah dalam bentuk berfirqoh-firqoh.

28. Mengapa Imaam Jama’ah Muslimin tidak tampil ke permukaan mengambil alih urusan Islam dan Muslimin? Jika belum saatnya, kapan dan bagaimana?

Sepanjang Muslimin tetap berfirqoh-firqoh dan memiliki pemimpinnya sendiri-sendiri, maka komando Imaam tidak akan ada artinya, karena tidak akan didengar dan ditaati. Ketaatan hanya akan diberikan oleh Muslimin yang sudah membai’atnya saja.

29. Bagaimana sikap Jama’ah Muslimin terhadap perkembangan pemikiran khilafah yang saat ini semakin berkembang luas di tengah-tengah umat?

Syari’at khilafah ini untuk diamalkan/dilaksanakan bukan hanya diseminarkan atau diperbincangkan, sebagaimana syari’at sholat, zakat, haji dan lain-lain

30. Bagaimana agar konsep khilafah dan Jama’ah Muslimin ini terlihat realistis di kalangan umat Islam, tanpa menafikan kelompok lain?

Dengan cara mempraktekkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari dan mengadakan ta’aruf, da’wah, ta’lim secara terbuka.

31. Bagaimana Jama’ah Muslimin menanggapai sebagian umat Islam yang lebih memilih tidak membai’at seorang Imaam, asalkan hidup dan beribadah sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah?

Kita serahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sambil terus berusaha menyelenggarakan dakwah. Dalam hal ini masih banyak muslimin yang belum mengetahui akan pentingnya bai’at, padahal membai’at khalifah, berjama’ah dan taat adalah unsur-unsur penting dalam ikatan Islam. Sebagaimana atsar sahabat mengatakan: “Tidak akan tegak Islam itu kecuali dengan wujud jama’ah, dan tidak terwujud jama’ah kecuali adanya imaam, dan tidak ada imaam itu kecuali untuk ditaati “.

32. Bagaimana sikap Jama’ah Muslimin terhadap anggapan bahwa orang-orang Al-Jama’ah lebih mementingkan ikhwannya?

Ad-Diinu nashihah. Setiap amal yang menyalahi Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dilakukan oleh siapapun perlu diluruskan. Pada prinsipnya yang menjadi dasar acuan adalah prinsip-prinsip ta’awun yang diajarkan Islam itu sendiri

Artikel ini hannya kopian dan hanya saya modifikasi sedikit..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s